Langsung ke konten utama

Untukmu yang Tercinta (Edisi Pertama)

Tuhan andai saja waktu bisa ku putar, tak akan mungkin aku dengan tega menggores sembilu pada hati Bundaku”.

Bunda, aku mungkin bukan anak yang bisa membahagiakan dan membanggakanmu. Bahkan lihatlah hingga saat ini, akupun belum bisa membalas semua budimu yang menjagaku, menimangku, memberiku susu terbaik di dunia, yang bingung ketika aku sakit, menangis kebingungan ketika aku terluka, saat tanganmu selalu siap menopangku ketika aku butuh bantuan, mengganti popokku sewaktu bayi, selalu ada saat aku mulai menyerah dan jatuh, rela tidak tidur demi menjagaku atau bahkan rela tidak makan ketika melihat aku belum makan. Bunda engkaulah satu-satunya orang yang dengan rela dan tulus selalu menyebut namaku dalam tia-tiap baris doamu, meminta pada sang Illahi dengan harapan aku menjadi anakmu yang sholehah, berbakti kepada orang tua, bisa menaikkan derajat keluarga kita, anak yang selalu berprestasi dan aku yakin masih banyak harapan yang terselip disana.
Tapi Bunda, apakah aku sekarang seperti itu ? ku rasa tidak. Aku hanyalah anak yang belum bisa menciptakan senyum bahagia di wajahmu, belum bisa menorehkan kata “anak sholehah” dalam diriku untukmu dan menurutku aku belum bisa berbakti padamu. Aku masih terlalu sering melanggar perintahmu, berbohong padamu, menyepelekan nasehatmu dan ku pikir kesalahan terbesarku adalah sanggup menciptkan bulir-bulir embun di pipimu.
Aku tahu Bunda, semua jasamu tak akan bisa di balas dengan apapun, bahkan dengan mengelilingi seluruh dunia ini sekalipun. Dosaku terlalu menumpuk dan selalu meninggalkan bekas di hatimu. Akupun tahu, engkau dengan segala kekuatanmu selalu mencoba memaafkan kesalahanku. Namun, apa yang aku lakukan ? selalu mengulang kesalahan yang sama kan ?. Mungkin pepatah benar Bun, aku seperti keledai. Aku bodoh, dan selalu mau mengulang kesalahan yang sama.
          Oh Tuhan, betapa beruntungnya aku memiliki Bunda sepertimu. Tapi ada satu pertanyaan yang menyesakkan dadaku, apakah kau juga sama merasa beruntung memiliki anak sepertiku ? ku rasa tidak Bun. Mungkin Tuhan salah memilihkanku malaikat di dunia ini sesempurna engkau, aku juga bahkan tak tahu mengapa engkau mau memiliki anak senakal aku. Aku merasa diriku ini hanyalah benalu di keluarga ini, aku hanyalah seorang makhluk kecil nakal yang selalu membuat menangis engkau. Tidak malukah kau memiliki anak seperti aku ?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Penyejuk Ketika Saya Mulai Menyerah

Lirik Lagu (Erie Suzan-Muara Kasih Bunda) Bunda Engkaulah muara kasih dan sayang Apapun pasti kau lakukan Demi anakmu yang tersayang Bunda Tak pernah kau berharap budi balasan Atas apa yang kau lakukan Untuk diriku yang kau sayang Saat diriku dekat dalam sentuhan Peluk kasihmu dan sayang Saat ku jauh dari jangkauan Doa mu kau sertakan Reff: Maafkan diriku bunda Kadang tak sengaja ku membuat remah hatimu terluka Kuingin kau tahu bunda Betapa kumencintaimu lebih dari segalanya * Kumohon restu dalam langkahku Bahagiaku seiring doamu Bunda Tak pernah kau berharap budi balasan Atas apa yang kau lakukan Untuk diriku yang kau sayang Saat diriku dekat dalam sentuhan Peluk kasihmu dan sayang Saat ku jauh dari jangkauan Doa mu kau sertakan Reff: Maafkan diriku bunda Kadang tak sengaja ku membuat remah hatimu terlu...

DI BALIK NIKMATNYA SANG ROKOK

               Apa yang terbesit di dalam fikiran anda ketika berbicara tentang kata “Rokok” ? Asapnya yang menyesakkan dada, bahaya gangguan kesehatan yang mengancamnya atau menimbulkan korban perokok pasif ? iya, jawaban anda benar.  Bicara soal rokok, yuk simak lebih lanjut mengenai benda yang cukup familiar di telinga kita ini             Sebenarnya tidak sedikit dari mereka yang tahu bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan tubuh. Namun banyak pula yang mengabaikannya. Padahal pada bungkus rokok dapat kita baca dengan mudah kalimat tentang bahaya merokok “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAH DAN JANIN”. Namun anehnya masih banyak dari saudara-saudara kita yang merokok tidak merasa bahwa perbuatannya merugikan diri sendiri dan orang lain dengan adanya ancaman-ancaman di dalan bungkus rokok yang mereka pegang. Padahal rokok mengandung...