“Tuhan andai saja waktu bisa ku putar, tak akan mungkin aku dengan tega
menggores sembilu pada hati Bundaku”.
Tapi Bunda, apakah aku
sekarang seperti itu ? ku rasa tidak. Aku hanyalah anak yang belum bisa
menciptakan senyum bahagia di wajahmu, belum bisa menorehkan kata “anak
sholehah” dalam diriku untukmu dan menurutku aku belum bisa berbakti padamu.
Aku masih terlalu sering melanggar perintahmu, berbohong padamu, menyepelekan
nasehatmu dan ku pikir kesalahan terbesarku adalah sanggup menciptkan
bulir-bulir embun di pipimu.
Aku tahu Bunda, semua
jasamu tak akan bisa di balas dengan apapun, bahkan dengan mengelilingi seluruh
dunia ini sekalipun. Dosaku terlalu menumpuk dan selalu meninggalkan bekas di
hatimu. Akupun tahu, engkau dengan segala kekuatanmu selalu mencoba memaafkan
kesalahanku. Namun, apa yang aku lakukan ? selalu mengulang kesalahan yang sama
kan ?. Mungkin pepatah benar Bun, aku seperti keledai. Aku bodoh, dan selalu
mau mengulang kesalahan yang sama.
Oh
Tuhan, betapa beruntungnya aku memiliki Bunda sepertimu. Tapi ada satu
pertanyaan yang menyesakkan dadaku, apakah kau juga sama merasa beruntung
memiliki anak sepertiku ? ku rasa tidak Bun. Mungkin Tuhan salah memilihkanku
malaikat di dunia ini sesempurna engkau, aku juga bahkan tak tahu mengapa
engkau mau memiliki anak senakal aku. Aku merasa diriku ini hanyalah benalu di
keluarga ini, aku hanyalah seorang makhluk kecil nakal yang selalu membuat
menangis engkau. Tidak malukah kau
memiliki anak seperti aku ?
Komentar
Posting Komentar