Dan entah kenapa semakin aku membenci dia semakin pula rasa cinta itu kian merasuk di dalam kalbuku. Bagai candu, iya aku semakin ketagihan. Akupun serasa tak bisa lepas dari bayangan yang kian menjerat. Pernah ku coba belajar menghapus semua rasa itu untuknya, namun percuma, dia terlalu mengakar dengan hebatnya di pohon hatiku. Andaikan semuanya semudah aku menulis catatan, dan kemudian ku hapus begitu saja sehingga tak menimbulkan luka, mungkin aku kini sudah bebas dari bayangan yang bersemayam jauh di dalam palung hatiku. Namun semua itu mustahil, ini bagaikan sembilu. Terlalu menyayat, sakit dan berbekas. Oh Tuhan, rasa apa yang telah Kau kirimkan ke aku untuknya. Akankah selamanya rasa ini tak bisa di dispensasi olehMu ?
Pernah juga aku mecoba menerapkan prinsip, bahwa aku tak akan mau lagi mencium aroma kehidupannya lagi. Namun, lagi-lagi aku terlalu munafik. Semua laksana bius, melemahkanku dan membuatku gila.
Entah sesakit apapun masalaluku dengannya, separah apapapun dia menyakitiku dan begitu kejamnya meninggalkanku, aku serasa ingin tetap diam dan bertahan untuk sekedar berkata, “Aku selalu disini untukmu, kapanpun dan dimanapun “. Dan kinipun aku menyadari, bahwa aku memang benar-benar menyanginya. Dan aku tak bisa berbohong akan hal itu.
Memaafkan kesalahannya di masalalu awalnya sulit, tapi lagi-lagi aku tak tau mengapa semua layak terbayar lunas dengan kembalinya dia dalam hidupku. Terimakasih yang tak terkira untuk sang Maha Cinta, kepadamu juga yang mau berubah atas salahmu.
Love you so much, terimakasih untuk hari-harinya yang membuatku terkesan setiap jam menit hingga detiknya. Terimakasih untuk semua kesabaran atas kebawelanku dan terimakasih untuk perjuangan empat tahun kedepan yang akan kau lalui untuk aku, ayah dan bundaku. Aku harap kau tak pernah lari dari janjimu.
Dan aku tunggu kau di dermagaku……
Komentar
Posting Komentar