Setahun silam, tepatnya pada tahun 2014 saya masih menyandang
status siswa berseragam putih abu-abu kelas XII. Masih melekat memang,
bagaimana indahnya persahabatan antara saya dengan teman-teman saya, asyiknya
bercengkrama untuk membahas hal yang menurut kami konyol dan tidak ada artinya,
bebasnya bermain kesana kemari untuk mencari hal yang belum kami kuak, dan segala
gado-gado kenangan putih abu-abu yang tak bisa di ceritakan satu persatu, karena
mereka terlalu berkerumun berdesakan untuk bisa maju diceritakan.
Stop ! sesi bercerita manis sudah usai. Yuk
menilik ke masa perjuangan kami !
Yang kelas XII SMA angkat tangan !, yuhu kalian pasti melewati
proses Ujian Negara yang menjadi momok siswa di seluruh Indonesia. Dari
pendekatan tiga tahun lamanya, pacarannya cuma empat hari, alhasil masih di
gantung selama sebulan, ah kasihan banget bukan ? Yang pada niat belajarnya
mupeng ekstra keras, yang pada beli bocoran belajarnya ala kadarnya aja, banyak
malah. Ah memang tak adil. Apalagi
ketika di bacakan pengumuman yang beli bocoran sama asli proses sendiri
nilainya lebih tinggi yang beli bocoran. Kalian iri ?pasti iya kan, karena saya
juga pernah merasakan kok. Tapi suatu saat saya sadar, bahwa proses yang di
cari sendiri daripada proses yang nikung menikung lebih jauh indah dan barokah
hasilnya, entah itu untuk masa sekarang maupun di masa mendatang. Nggak percaya ? Monggo atuh buktikan. “MAN
SARA DARBI ALA WASHALA” (siapa yang berjalan di jalurNya akan sampai).
Lupakan UN, yuk
kita sedikit naik tangga yang tereksis dan paling termahsyur di kalangan siswa
kelas XII untuk melanjutkan pendidikannya ke PTN. Iyap, siapa lagi kalau bukan
SNMPTN. Seleksi Nasional ini sering di sebut sebagai jalur undangan tanpa test ke
PTN favorit. Bicara SNMPTN, izinkan saya share pengalaman perjuangan saya
dengan teman-teman saya ya ?. Kala itu, kami memang ikut jalur SNMPTN, patokannya
sih ingin masuk ke PTN favorit di Negeri kami. Namun alhasil ketika jatuh tempo
hari pengumuman, laman yang kami isi dengan nomor pendaftaran memunculkan
tulisan merah yang menyesakkan dada, dan tertera rentetan tulisan yang
menyatakan kami tidak lolos SNMPTN. Oh, betapa sedihnya hati kami. Beribu
bayangan dan kekhawatiran telah mengelilingi otak kami. Bagaimana tidak ?
lagi-lagi kami di buat kaget dengan “kenyataan hidup”, teman kami yang tidak
niat dan serius daftar ke PTN malah lolos, sedangkan kami yang sudah niat dan
berusaha keras tidak lolos. Dongkol saat itu !. Namun, satu pelajaran paling
berharga yang kami dapatkan. Bukankah hidup yang tak diperjuangkan tak dapat
dimenangkan ? So, life must go on guys. Berjuang dan bangkit jauh lebih baik
daripada meratapi nasib. Di tolak melalui SNMPTN tak berarti mati kan ? hehe.
SNMPTN berlalu, kamipun mengikuti jalur selanjutnya yaitu SBMPTN. Terkhusus untuk saya, saya ketika itu memilih panlok Malang untuk tempat test. Berbekal nebeng mobil sahabat saya Rara dan doa bunda saya. Nasib saya dengan Rara mungkin sedikit berbeda, karena tujuan kita memang sama-sama ke Malang tetapi Rara sudah melakukan tahap daftar ulang karena telah di terima lewat jalur SNMPTN di prodi Pikologi Universitas Negeri Malang, sedangkan saya masih melalui tahap berjuang. Meskipun saya tak lolos SNMPTN, saya cukup berbangga karena sahabat saya si Rara lolos di jurusan yang ia ingini di PTN favorit pula. Si Rara ketika itu menjadi penyemangat kedua setelah orang tua saya untuk bisa mengerjakan soal SBMPTN. (Thank you very much sist about that moment).
SNMPTN berlalu, kamipun mengikuti jalur selanjutnya yaitu SBMPTN. Terkhusus untuk saya, saya ketika itu memilih panlok Malang untuk tempat test. Berbekal nebeng mobil sahabat saya Rara dan doa bunda saya. Nasib saya dengan Rara mungkin sedikit berbeda, karena tujuan kita memang sama-sama ke Malang tetapi Rara sudah melakukan tahap daftar ulang karena telah di terima lewat jalur SNMPTN di prodi Pikologi Universitas Negeri Malang, sedangkan saya masih melalui tahap berjuang. Meskipun saya tak lolos SNMPTN, saya cukup berbangga karena sahabat saya si Rara lolos di jurusan yang ia ingini di PTN favorit pula. Si Rara ketika itu menjadi penyemangat kedua setelah orang tua saya untuk bisa mengerjakan soal SBMPTN. (Thank you very much sist about that moment).
Lamanya menunggu
sebulan untuk menunggu hasil pengumuman SBMPTN, kamipun tak luput untuk mencari
info mandiri-mandiri PTN yang sudah mulai ramai di buka. Di list kami ketika
itu ada mandiri UM, SPMK UB, SIMAK UI, UTUL UGM, mandiri UNEJ yang sudah
mengantre dengan jadwal padatnya. Kebetulan, saat itu saya, Ashab, Aini, Anis
dan Ainul berkesempatan untuk bisa mengikuti mandiri UM, lumayan karena
pendaftarannya gratis gegara ikut jalur bidik misi. Dengan semangat membara dan
tekad yang kuat, akhirnya kita memesan tiket kereta api dan langsung berangkat
ke Malang. Bulan itu kebetulan bulan Ramadhan, jadi terasa banget nuansa rasa
capek, dahaga dan lapar . Di tambah lagi, kita harus berjuang untuk sekedar
berebut angkot (karena memang banyaknya calon maba berstatus pendaftar kala
itu) untuk menuju kos-kosan kakak teman kami, maklum kita numpang hehe . But, I know ! We’re strong guys. Ketika esoknya
test di mulai, langkah kita masih tegap dan memenjarakan optimisme yang kuat.
Waktu pulangpun sudah menengok kita, saya ingat betul saat itu dengan saku yang
pas-pasan kita saling menguatkan, beli nasi goreng dan beli krupuk untuk di
makan bersama ketika berbuka puasa. Sungguh, saya merindukan kegigihan
teman-teman saya ketika itu.
Dan kebetulan
sekali, jadwal pulang kami dari Malang bentrok dengan jadwal pengumuman SBMPTN.
Jadi, ratusan calon maba yang ketika itu sekereta dengan kami sudah memasang
wajah tegangnya, dan menunjukkan kekhawatiran “aku lolos atau tidak”. Anis, ketika itu menguatkan diri untuk melihat pengumuman yang pertama, dan apa
yang terjadi ? Anis menangis ! what’s wrong ? iya, Anis lagi-lagi di nyatakan
tidak lolos. Kemudian di susul oleh Ainul, yang ternyata di nyatakan tidak
lolos pula. Jujur, saya dan Aini ketika itu masih takut, apalagi suasananya
tidak mendukung, di tambah teman kenalan kami dari SMAN 1 Genteng Banyuwangi
sudah di nyatakan lolos di Teknik Pertanian UGM. Lalu, apa daya kami ketika
melihat kenyataan seperti itu ? menangis di kereta sudah pasti, hati berkecamuk
? apalagi. Akhirnya saya dan Aini memutuskan untuk membuka pengumuman di rumah,
namun lagi-lagi keberuntungan memang masih bukan milik kami.
Mandiri kedua,
kita niat untuk mengikuti jalur SPMK UB bidik misi yah walaupun pesimisme sudah
merayu kami. Personil kami ketika itu bertambah, yaitu Bashori, Winda dan Ayuni.
Namun kita juga kehilangan Anis, karena Anis sudah menjemput rezekinya di
Sastra Inggris melalui Mandiri UNEJ. Alhamdulillah, semoga teman lainnya
menyusul (do’a kami ketika di kereta menuju Malang lagi). Untuk momen test
mandiri kali ini, ada hal yang lucu sekaligus mengharukan. Pertama , sepatu si Ashab
ketinggalan di kereta dan alhasil dia harus meminjam sepatu kakak kelas kami
untuk bisa mengikuti test, mas Bayu namanya, saya tak terlalu mengenal sih tapi
di mata saya dia adalah orang yang pintar dan baik karena pernah menolong saya.
Kedua, Saya ingat betul ketika kami para
personil cewek harus nekat menumpang di kosan kakak kelas, cowok pula. Karena
saat itu, kakak kelas kami yang cewek kebanyakan udah pulang kampung, eits tapi
jangan salah persepsi dulu, kita kaum cewek di berikan ruang private sendiri
kok. Mas Yohanes namanya, dia baik dan mencerminkan jiwa toleransi. Bagaimana
tidak, dia merupakan kakak kelas kami yang kebetulan beragama Kristen, tapi
kita disana diberikan fasilitas untuk tetap bisa melaksanakan lima waktu. Alhamdulillah,
Allah memang Pemberi Rizki yang sempurna lewat tangan-tangan manusia. Lagi-lagi,
jadwal test kita kali ini bentrokan lagi dengan pengumuman SIMAK UI, Bashori
dan Ayuni yang mengikuti. Mereka di nyatakan tidak lolos, dan untuk mandiri UB
ini sayangnya mereka juga dinyatakan tidak lolos. Tetapi Alhamdulillah, saya
dan Ainul di beri kesempatan mencicipi bagaimana rasanya bisa dinyatakan lolos
di kampus bonafit di Jawa Timur ini.
Setelah yang di
nyatakan lolos Cuma 2 orang melalui SPMK UB, saya tak terlalu tau banyak lagi
mengenai perkembangan mereka. Namun yang pasti, teman-teman saya masih tetap
berjuang untuk masa depannya. Tetapi, lagi-lagi saya dan Ainul harus meminum
pil pahit kembali, ketika kami di tuntut harus membayar uang pendaftaran ulang
setara beli rumah (pertanyaannya, siapa yang mau bayar ?). Aduh, pusing pala
Barbie kami ketika itu. Dan pada akhirnya, kita harus merelakan kembali untuk
out dari PTN yang tersohor itu. Ah mungkin belum rezekinya kali ya dan mungkin
jalan ini bukan yang terbaik untuk saya. Ikhlas ! itu yang kami tanamkan. Sabar
! itu yang selalu kami camkan. MAN SHABARA ZHAFIRA (Siapa yang bersabar akan
beruntung).
Kekecewaan kami
sedikit terobati mendengar kabar Ashab masuk di UNESA dengan bidik misi pula,
di susul kemudian Aini dan Winda yang lolos di Poltek Kesehatan dan Ayuni
menjalani kehidupan baru sebagai calon Bidan di Perguruan Tinggi Swasta, lalu
Bashori ? dia ingin jadi pejuang SBMPTN lagi di tahun 2015. Dan saya serta
Ainulpun memutuskan untuk masuk di Perguruan Tinggi Swasta pula, tepatnya di
UNMUH Jember, tetapi Ainul dengan singkatnya langsung memilih keluar dengan
alasan ingin focus saja di SBMPTN 2015. Dan saya ? saya masih tetap disini,
masih stay di fakultas psikologi sampai semester 2. Untuk kedepannya ? tentu akan saya jawab,
“Saya ingin berjuang lagi !”.
Manusia memang
tak berhak menerka takdir, karena yang berhak menentukan segala jenis keputusan
adalah Yang Maha Sutradara kehidupan. Sejauh apapun kamu berjalan, sekuat
apapun kamu mencoba dan sekeras hatimu
memberontak, kalau Dia tak menghendaki sungguh tak akan pernah terjadi. Berdoa
dan berjuang itu yang lebih penting, pasrah dan mengikhlaskan itu yang jauh
lebih baik.
Mungkin kata-kata
Ibnul Qayyum al-Jauziyah di bawah ini bisa menjadi renungan bagi adik-adik yang
masih terpuruk oleh galaunya test-test masuk PTN, dan terutama khusus bagi saya
sendiri tentunya.
“Jalan menuju
Allah adalah jalan dimana Adam kelelahan, Nuh mengeluh, Ibrahim di lempar ke
dalam api, Ismail dibentangkan untuk disembelih, Yusuf di jual dengan harga
murah dan di penjara selama beberapa tahun, Zakaria di gergaji, Yahya
disembelih, Ayub menderita penyakit, Daud menangis melebehi kadar semestinya,
Isa berjalan sendirian, dan Muhammad SAW mendapatkan kefakiran dan berbagai
gangguan. Sementara kalian ingin menempuhnya dengan bersantai ria dan
bermain-bermain? Demi Allah takkan pernah terjadi.”
Life must Go On
Guys, Dia tahu apa yang kamu mahu dan yang terbaik bagimu !. Yuk mumpung masih
masih muda, kejar impian sepuas-puasnya. Meratapi kegagalan adalah bukan hal
yang bijak, namun bangkit dan berusaha mewujudkannya adalah pilihan yang tepat.
Selamat menikmati indahnya perjuangan !^^
- Hidup terlalu singkat untuk di tangisi-
Yang pernah di tolak PTN dan ingin bangkit kembali
Ena Julivia Neti Adinda :)
Ena Julivia Neti Adinda :)

Komentar
Posting Komentar